fbpx Skip to content

Radio Frequency Ablation Menangani Tiroid

Pernahkah anda mengalami kelelahan berlebihan sepanjang hari? Apakah disertai dengan berat badan yang meningkat secara tiba-tiba, sulit berkonsentrasi, badan menggigil, rambut rontok, melemahkan jantung dan otot? atau sebaliknya yang anda alami adalah kegugupan berlebihan, berat badan berkurang meski sudah mengonsumsi banyak makanan, jantung berdebar yang disertai denyut nadi yang cepat? Hal ini bisa terjadi karena gangguan fungsi hormon tiroid. Ada beberapa cara untuk menangani tiroid, namun salah satunya adalah dengan radio frequency ablation.

Meskipun bagi beberapa masyarakat umum penyakit tiroid ini terdengar asing, namun menurut data dari WHO Global Database on Iodine Deficiency (2004) sekitar 285.4 juta anak usia sekolah 6-12 tahun dan sekitar 1,9 milyar penduduk dunia mengalami defisiensi iodium. Di Asia, sekitar 187 juta anak usia sekolah (6-12 tahun) dan 1,2 milyar populasi umum mengalami defisiensi iodium. Lebih lanjut, kelenjar tiroid merupakan kelainan endokrin terbanyak kedua setelah diabetes melitus di Indonesia.

Berbagai usia dengan gangguan tiroid:

Bayi baru lahir – terakumulasi tiap tahunnya di Indonesia. Di seluruh dunia prevalensi hipotiroid kongenital 1 : 3.000. Dengan prevalensi 300-900 di daerah endemik tinggi. Jika angka kelahiran sebanyak 5 juta bayi/tahun dengan kejadian 1 : 3.000 kelahiran maka terdapat 1.600 bayi dengan hipotiroid kongenital per tahun yang akan terakumulasi tiap tahunnya.

Anak-anak: Angka prevalensi hipertiroid di seluruh dunia pada anak yang berusia ≤ 15 tahun adalah 8 : 1.000.000 dan yang berusia ≤ 4 tahun 1 : 1.000.000

Usia Dewasa atau Produktif: Wanita 10x lebih rentan terkena hipotiroid dibanding laki-laki. 7% dari wanita yang baru saja melahirkan mengalami masalah dengan kelenjar tiroid dalam tahun pertama.

Usia Lanjut: Nodul tiroid dapat terjadi pada lebih dari 50% populasi penduduk dan sebagian besar sudah berusia lanjut. Studi ATA menemukan populasi orang ≥ 70 tahun memiliki kemungkinan 43% terkena nodul dibandingkan dengan usia muda (20-29 tahun)

Fungsi kelenjar tiroid:

Kelenjar tiroid merupakan kelenjar yang memiliki fungsi mempertahankan metabolisme tubuh, seperti metabolisme jantung, membantu mengatur metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, memacu pertumbuhan normal, memacu perkembangan dan pematangan sistem saraf dan memacu pembentukan kalori. Dengan kata lain, gangguan kelenjar tiroid dapat mempengaruhi seluruh sistem tubuh dan berakibat fatal jika tidak ditangani dengan tepat.

Masalah tiroid dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu, perubahan ukuran atau bentuk tiroid yang biasa dikenal dengan gondok dan gangguan fungsi hormon tiroid. Kedua masalah tersebut dibagi lagi menjadi dua, perubahan ukuran tiroid yang sering dikenal sebagai gondok dibagi menjadi dua yaitu benjolan jinak dan ganas. Sedangkan gangguan fungsi hormon dibagi menjadi hipertiroid (kelebihan hormon) dan hipotiroid (kekurangan hormon).

Gejala Hipertiroid:


– Gemetar, gugup / gelisah
– Mata melotot
– Berat badan berkurang meski banyak makan
– Sulit tidur
– Cepat lelah
– Berdebar
– Tidak tahan panas
– Diare
– Tulisan tangan berubah
– Gangguan Menstruasi
– Otot lemah, tidak kuat olah raga, tidak bisa naik tangga
– Mata nyeri atau pandangan ganda
– Rasa cemas berlebihan
– Nadi cepat
– Kelenjar gondok membesar
– Kadar hormon T3 dan T4 meningkat

Gejala Hipotiroid:


– Mudah lelah
– Berat badan meningkat
– Pelupa
– Labil / sensitif
– Sulit berkonsentrasi
– Rambut rontok / menipis
– Kulit kering
– Tidak tahan dingin
– Kolesterol meningkat
– Mata sembab
– Kelenjar gondok membesar
– Suara dalam parau, tenggorokan kering dan sering meradang
– Denyut jantung melemah
– Infertilitas, siklus menstruasi tidak teratur
– Otot lemah
– Sembelit

Gangguan kelenjar tiroid ini kerap tidak disadari karena tak ada gejala khusus. Padahal, jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini, kelainan tiroid dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup. Oleh karenanya, penting bagi masyarakat untuk melakukan deteksi dini serta mendapatkan penanganan yang tepat terhadap masalah tiroid.

Thyroid Center

Bethsaida Hospital yang telah memiliki layanan Thyroid Center kini siap untuk memberikan pelayanan terhadap penyakit tiroid ini. Mulai dari penegakan diagnosa, terapi khusus, hingga penanganan secara komprehensif. Kami mengetahui bahwa tidak sedikit diantara masyarakat yang menghindari rumah sakit untuk penanganan terhadap penyakit tiroid. Hal ini disebabkan oleh pemikiran masyarakat yang berasumsi bahwa jika sudah mengalami tiroid maka tindakan operasi merupakan hal yang tidak bisa dihindari.

Akan tetapi bersama Dr. Rochsismandoko, Sp.PD-KEMD, FACE sebagai dokter spesialis penyakit dalam yang mendalami sub spesialisasi endokrin dan penyakit metabolik dari Bethsaida Hospital mengatakan bahwa sekarang untuk menghilangkan pembesaran kelenjar tiroid jinak hanya memerlukan tindakan minimal invasif yang tanpa operasi. Tindakan ini disebut juga sebagai Radio Frequency Ablation dimana metode ini diguakan untuk menghilangkan kista pada tiroid.

Prosedur Tindakan RFA

Tindakan RFA ini akan melibatkan sebuah elektroda yang dimasukkan ke dalam leher dengan bantuan USG sampai mencapai tumor di dalam kelenjar tiroid, kemudian sebuah generator listrik akan dinyalakan untuk mengalirkan energi termal untuk merusak struktur tumor. Tentu prosedur ini akan menggunakan anastesi lokal sehingga pasien merasa aman & nyaman selama menjalani prosedur.

Pada umumnya prosedur Radio Frequency Ablation ini akan memakan waktu hanya 30 menit sampai 1 jam dengan kelebihan secara biaya lebih murah dan pasien tidak akan memiliki luka bekas sayatan operasi. Tindakan ini juga pada umumnya tidak menimbulkan rasa sakit baik saat dilakukan prosedur ataupun sesudahnya.Setelah menjalani prosedur RFA ini, dokter akan melakukan observasi selama 10-12 jam mendatang untuk melihat hasil reaksi dari prosedur RFA tersebut.

Namun apabila terjadi risiko, dokter akan memberikan obat pereda nyeri. Selain itu, prosedur ini tidak memiliki banyak persyaratan namun biasanya pasien akan disarankan untuk melakukan pemeriksaan darah terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk memastikan keadaan tubuh pasien siap menjalani prosedur RFA ini.

Dr. Rochsismandoko, Sp.PD-KEMD, FACE mengatakan bahwa angka keberhasilan prosedur RFA ini adalah 47-96%. Berhasil atau tidaknya tindakan ini bisa dilihat 6 bulan setelah menjalani prosedur dengan kontrol rutin ke dokter setiap bulannya.

Share

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on print