Waspadai Abses Anal, Benjolan Pada Anus Yang Menyakitkan

Waspadai abses anal

Mengapa Kita Harus Waspadai Abses Anal

Pengertian Abses Anal

Abses peranal adalah infeksi di sekitar anus,berupa benjolan berisi nanah. Abses perianal dapat menimbulkan rasa sakit yang sangat oleh karena tekanan atau pem-bengkakan yang disebabkan oleh nanah tersebut. Nyeri tersebut terutama dirasakan saat duduk, tertekan atau saat buang air besar.

Abses anal umumnya ditandai dengan benjolan kecil kemerahan, terasa panas di sekitar anus. Pada beberapa kasus, abses perianal juga dapat muncul di rektum (bagian akhir usus besar sebelum anus).

Bila tidak segera ditangani, abses perianal dapat menyebabkan terbentuknya saluran tidak normal di anus (fistula ani). Kondisi ini akan membuat rasa sakit yang berulang dan luka disekitar anus yang selalu mengeluarkan nanah atau darah. Pada beberapa kasus yang disertai dengan komplikasi seperti diabetes melitus dapat menyebabkan infeksi berat (sepsis) yang dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu kita harus waspadai abses anal yang bisa membahayakan hidup kita.

Gejala

Gejala umum abses anal adalah nyeri di sekitar anus atau rektum yang terasa menusuk dan panas. Rasa sakit ini berlangsung terus menerus dan bertambah parah saat duduk, batuk, dan buang air besar (Hajlan, 2016)

Gejala lain yang muncul akibat abses perianal adalah:

  • Sembelit
  • Demam dan menggigil
  • Tubuh mudah lelah
  • Sulit buang air kecil
  • Iritasi, bengkak, dan kemerahan di sekitar anus
  • Keluar nanah atau darah dari dubur

Sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter bila mengalami gejala tersebut.

Penyebab

Penyebab umum penyakit abses perianal ini adanya infeksi yang disebabkan bakteri disekitar anus yang masuk melaui luka ke bagian sekitar lekukan di dekat ujung anus (Kripta) yang merupakan muara dari kelenjar bertugas menghasilkan cairan pelumas yang berguna saat kita BAB. Biasanya bakteri ini hidup di dalam usus besar atau tinggal di daerah kulit dekat anus. Selain itu, penyakit ini juga bisa disebabkan oleh luka di anal yang terinfeksi, infeksi menular seksual, atau gangguan usus seperti penyakit Crohn dan divertikulitis usus besar (DF, Waheed, & F, 2020)

Berikut Penyabab penyakit abses perianal

  • Adanya sumbatan pada kelenjar di sekitar anus
  • Adanya fisura, atau robekan, pada anus, yang terinfeksi
  • Infeksi menular seksual
  • Beberapa faktor risiko yang berkaitan dengan abses perianal adalah:
  • Riwayat menjadi pasangan reseptif yang melakukan hubungan seksual melalui anus (seks anal)
  • Infeksi usus besar
  • Peradangan pada saluran cerna
  • Diabetes
  • Peradangan pada panggul

Tindakan Penanganan

Medika mentosa dengan  pemberian antibiotik, antiradang, antinyeri.

Pembedahan merupakan cara yang paling efektif apabila pemberian medikamentosa tidak menunjukkan perbaikan. Pada penanganan ini kantung dari nanah tersebut harus di bersihkan sampai ke semua salurannya.

Paling baik untuk mengatasi abses anal sebelum pecah karena apabila hal tersebut terjadi kemungkinan terjadinya fistula ani semakin tinggi. (Publishing, 2020)

Dengan perawatan yang tepat, orang dengan penderita abses anal dapat pulih total dalam jangka waktu yang pendek Berikut adalah penanganan rumahan untuk mengatasi abses anal :

  • Gunakan teknik lembut untuk membersihkan area anal.
  • Jagalah area anal anda agar tetap kering dengan mengganti celana dalam secara berkala dan pakai bedak untuk meresap kelembapan berlebih.
  • JANGAN melakukan anal sex

Pada beberapa kasus, bayi dan balita dapat mengalami kondisi ini. Penggantian popok yang sering serta pembersihan yang benar dapat membantu pencegahan abses anal. 

balita dapat mengalami kondisi ini. Penggantian popok yang sering serta pembersihan yang benar dapat membantu pencegahan abses anal. 

Narasumber: dr. Okkian Wijaya K, Sp.B (K)BD FINACS

Mengenal Dampak Dari Penyakit Kulit Actinic Keratosis

Pengertian

Actinic Keratosis atau solar keratosis adalah kondisi di mana kulit menjadi kasar, menebal, bersisik, akibat paparan sinar matahari dalam waktu yang lama atau penggunaan alat tanning untuk menghitamkan kulit.

Actinic keratosis biasanya dialami oleh orang yang berusia 40 tahun ke atas dan orang yang sering beraktivitas di bawah sinar matahari dalam waktu yang lama. Actinic keratosis berkembang secara perlahan dan tidak menyebabkan gejala. Meskipun penyakit ini jarang terjadi, kondisi ini berpotensi menyebabkan kanker kulit [1].

Penyebab

Paparan sinar matahari (ultraviolet) secara berlebihan dan dalam waktu lama (bertahun-tahun), tanpa menggunakan pelindung (tabir surya, topi, pakaian tertutup) merupakan penyebab utama terjadinya actinic keratosis.

Faktor Risiko

Actinic keratosis dapat menyerang siapapun. Meski begitu, seseorang lebih beresiko terkena kondisi tersebut jika [2]:

  • Berusia lebih dari 40 tahun
  • Tinggal di area yang banyak paparan sinar matahari
  • Sering melakukan kegiatan di bawah sinar matahari dalam waktu lama
  • Riwayat kulit terbakar akibat sinar matahari
  • Memiliki tipe kulit yang putih
  • Sering menggunakan atau riwayat penggunaan tanning bed atau alat penghitam kulit
  • Memiliki sistem imun yang rendah, misalnya akibat usia lanjut, penderita kanker, HIV/ AIDS, dan penggunaan alat kemoterapi atau obat-obatan imunosupresan

Tanda dan gejala

Actinic keratosis umumnya muncul pada bagian kulit yang sering terkena paparan sinar matahari.seperti wajah, telinga, bibir, kulit kepala yang botak, leher, lengan, dan punggung tangan. Beberapa perubahan yang dapat terjadi pada area kulit yang terdampak adalah [3] :

  • Bercak kasar, kering, dan bersisik
  • Kadang berupa beruntus kasar, permukaannya mirip seperti kutil
  • Bercak atau beruntus tersebut dapat berwarna kemerahan, sewarna kulit, atau kecokelatan
  • Area yang mengalami kelainan umumnya berdiameter 2.5 cm atau lebih kecil
  • Umumnya tidak bergejala, namun dapat disertai rasa gatal, sensasi terbakar, nyeri saat disentuh, dan berdarah.

Kapan harus ke dokter

Segera periksakan ke dokter jika terjadi perubahan kulit. Penderita actinic keratosis juga dianjurkan untuk segera menemui dokter jika mengalami gejala yang perlu diwaspadai seperti :

  • Ada pertumbuhan jaringan yang tidak biasa di permukaan kulit
  • Timbul benjolan atau jaringan kulit baru di permukaan kulit yang bertambah besar, terasa sakit, atau berdarah
  • Pernah mengalami actinis keratosis sebelumnya, dan terlihat ada bercak-bercak baru pada kulit

Diagnosis

Pada tahap awal pemeriksaan, dokter akan menanyakan gejala yang dialami. Selanjutnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik sambil memperhatikan area kulit yang mengalami kelainan. Apabila masih ada keraguan dan dikhawatirkan bercak-bercak yang diderita disebabkan oleh penyebab lain, dokter kulit melakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan biopsi dan dermoskopi. Pada saat melakukan dermoskopi, dokter akan menggunakan mikroskop pembesar bernama dermatoscope untuk memeriksa permukaan kulit dan kelainan yang muncul. Pada prosedur biopsi, dokter akan mengambil sampel jaringan pasien untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium

Pengobatan

Actinic keratosis dapat ditangani dengan pemberian obat-obatan, tindakan khusus, atau operasi. Jenis pengobatan ditentukan oleh dokter berdasarkan jumlah actinic keratosis yang dialami, ketebalan dan lokasinya, adanya tanda-tanda keganasan, serta kondisi kesehatan penderita secara keseluruhan [4].

  • Obat-obatan

Digunakan untuk actinic keratosis yang tipis dan rata. Obat yang diberikan merupakan obat topikal (oles) dalam bentuk krim atau gel. Obat-obatan ini meliputi :

– Gel antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs), digunakan selama 3 bulan.

– Krim fluorouracil, digunakan selama 2-8 minggu.

– Krim imiquimod, digunakan 2-3 kali per minggu selama 4-16 minggu.

  • Terapi photodynamic (PDT)

Tindakan ini dilakukan pada pasien dengan actinic keratosis beulang atau actinic          keratosis dengan jumlah banyak. Pada prosedur ini, dokter akan mengoleskan bahan          kimia yang membuat kulit lebih sensitif terhadap sinar. Kemudian dokter akan            menggunakan lampu khusus untuk mengaktifkan bahan kimia tersebut sehingga 
        menghancurkan actinic keratosis.

  • Krioterapi

Pada prosedur ini, dokter menggunakan cairan nitrogen untuk membekukan dan             mengangkat actinic keratosis.

  • Elektrokauter dan kuretase

Untuk actinic keratosis yang tebal, tindakan elektrokauter dengan scraping mungkin akan disarankan dokter sebagai solusi untuk mengangkat sel-sel yang rusak. Awalnya dokter akan memberikan suntikan anastesi lokal pada pasien, kemudian mengikis sel-sel yang rusak pada permukaan kulit menggunakan alat kuret. Terapi akan dilanjutkan dengan tindakan electrosurgery yang bertujuan untuk menghancurkan jaringan yang tersisa menggunakan aliran listrik.

  • Operasi

   Tindakan operasi dan biopsi dilakukan pada lesi actinic keratosis yang dicurigai telah mengalami perubahan ke arah keganasan/ kanker kulit.

Komplikasi

Jika pengobatan telah dilakukan dengan benar, actinic keratosis jarang menimbulkan komplikasi. Namun pada kasus tertentu bintik-bintik ini dapat berubah menjadi kanker kulit, yang paling sering adalah karsinoma sel skuamosa. Risiko perubahan menjadi kanker kulit meningkat bila ditemukan lesi actinic keratosis dengan jumlah lebih 10, disertai keluhan nyeri, aktinic keratosis yang tebal, menjadi luka dan membesar dengan cepat. Kanker sel skuamosa adalah kanker yang jarang membahayakan nyawa. Akan tetapi, kanker ini dapat menyebar ke jaringan dan organ tubuh lainnya jika tidak diobati dengan benar.

Pencegahan

Perlindungan diri dari sinar UV sangat penting untuk mencegah perkembangan dan kambuhnya actinic keratosis. Jika Anda yang sering beraktivitas di bawah sinar matahari, sangat disarankan untuk melakukan pencegahan berikut [5]:

  • Gunakan tabir surya yang tahan air dan mengandung SPF 30. Oleskan di bagian tubuh, yang sering terpapar sinar matahari secara merata.
  • Batasi beraktivitas di bawah matahari secara langsung antara pukul 10 pagi hingga 3 sore, karena sinar ultraviolet yang dipancarkan sangat tinggi.
  • Lindungi kulit dari paparan sinar matahari dengan pakaian lengan panjang, celana panjang, kaos kaki, sepatu tertutup, jaket, dan topi
  • Hindari menggunakan tanning bed. Alat tanning akan memancarkan ultraviolet dan radiasi yang dapat merusak kulit.
  • Lakukan pemeriksaan kulit secara berkala, jika kulit Anda bermasalah agar bisa langsung ditangani jika gejala actinic keratosis terdeteksi.

Narasumber: dr. Inneke Halim, Sp.KK