Terapi Rehabilitasi Medik Untuk Pasien Pasca Stroke

Pengertian Stroke & Pasca Stroke

Pasca stroke merupakan suatu tahap yang akan dijalani apabila pasien telah mengalami stroke sebelumnya. Stroke merupakan masalah yang besar dan serius. Sebagai penyebab kecacatan terbanyak kedua pada individu usia di atas 60 tahun, stroke menimbulkan beban psikososial serta biaya yang sangat besar.

Solusi Bagi Pasien Pasca Stroke

Bagi pasien pasca stroke diperlukan intervensi rehabilitasi medik agar mereka mampu mandiri untuk mengurus dirinya sendiri dan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari tanpa harus terus menjadi beban bagi keluarganya. Namun tidak semua pasien mendapat kesempatan melanjutkan program rehabilitasi stroke setelah pulang dari perawatan. Sebagian besar disebabkan karena tidak tersedianya fasilitas rehabilitasi medik di sekitar tempat tinggal pasien. Secara umum rehabilitasi stroke fase subakut dan kronis dapat ditangani melalui tatalaksana rehabilitasi medis sederhana yang tidak memerlukan peralatan canggih. Berfokus pada upaya untuk mencegah komplikasi immobilisasi yang dapat membawa dampak kepada perburukan kondisi dan mengembalikan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari. Diharapkan pasien dapat mencapai hidup yang lebih berkualitas. Pelayanan Kesehatan Primer sangat penting perannya.

Sindrome stroke

Patologi stroke dapat dibagi dalam 2 kategori yaitu hemoragik dan iskemia. Gejala klinis stroke bervariasi tergantung pada bagian otak yang sirkulasinya terganggu. Secara umum stroke memberikan gambaran klinis dengan pola yang khas, dengan variasi secara individual tergantung pada ukuran pembuluh darah, pola aliran atau luasnya disrupsi aliran darah ke otak.

Gangguan fungsi akibat stroke

Dalam rehaebilitasi medis, istilah fungsi merujuk pada kemampuan/ketrampilan seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari, aktivitas hiburan atau hobi, pekerjaan, interaksi sosial dan perilaku lain yang dibutuhkan. Aktivitas sehari-hari seseorang tentu sangat luas, individu yang satu berbeda dengan individu lain. Aktivitas sehari-hari yang perlu dinilai adalah kemampuan dasar dalam melakukan aktivitas perawatan diri sendiri yaitu makan-minum, mandi, berpakaian, berhias, menggunakan toilet, kontrol buang air kecil dan besar, berpindah tempat (transfer), mobilitas-jalan dan menggunakan tangga.

Proses Pemulihan setelah Stroke

Proses pemulihan setelah stroke dibedakan atas pemulihan neurologis (fungsi saraf otak) dan pemulihan fungsional (kemampuan melakukan aktivitas fungsional).

Pemulihan neurologis terjadi awal setelah stroke. Mekanisme yang mendasari adalah pulihnya fungsi sel otak pada area penumbra yang berada di sekitar area infark yang se- sungguhnya, pulihnya diaschisis dan atau terbukanya kembali sirkuit saraf yang sebelumnya tertutup atau tidak digunakan lagi. Kemampuan fungsional pulih sejalan dengan pemulihan neurologis yang terjadi.

Setelah lesi otak menetap, pemulihan fungsional masih dapat terus terjadi sampai batas-batas tertentu terutama dalam 3-6 bulan pertama setelah stroke. Hal itulah yang menjadi fokus utama rehabilitasi medis, yaitu untuk mengembalikan kemandirian pasien mencapai kemampuan fungsional yang optimal. Proses pemulihan fungsional terjadi berdasarkan pada proses reorganisasi atau plastisitas otak melalui:

A. Proses Substitusi
Proses ini sangat tergantung pada stimuli eksternal yang diberikan melalui terapi latihan menggunakan berbagai metode terapi. Pencapaian hasilnya sangat tergantung pada intaknya jaringan kognitif, visual dan proprioseptif, yang membantu terbentuknya proses belajar dan plastisitas otak.

b. Proses Kompensasi
Proses ini membantu menyeimbangkan keinginan aktivitas fungsional pasien dan kemampuan fungsi pasien yang masih ada. Hasil dicapai melalui latihan berulang-ulang untuk suatu fungsi tertentu, pemberian alat bantu dan atau ortosis, perubahan perilaku, atau perubahan lingkungan.

Intervensi Rehabilitasi Medis pada Stroke

Secara umum rehabilitasi pada stroke dibedakan dalam beberapa fase. Pembagian ini dalam rehabilitasi medis dipakai sebagai acuan untuk menentukan tujuan (goal) dan jenis intervensi rehabilitasi yang akan diberikan, yaitu:

  1. Stroke fase akut: 2 minggu pertama pasca serangan stroke

Pada fase ini kondisi hemodinamik pasien belum stabil, umumnya dalam perawatan di rumah sakit, bisa di ruang rawat biasa ataupun di unit stroke.

  1. Stroke fase subakut: antara 2 minggu-6 bulan pasca stroke

Pada fase ini kondisi hemodinamik pasien umumnya sudah stabil dan diperbolehkan kembali ke rumah, kecuali bagi pasien yang memerlukan penanganan rehabilitasi yang intensif. Sebagian kecil (sekitar 10%) pasien pulang dengan gejala sisa yang sangat ringan, dan sebagian kecil lainnya (sekitar 10%) pasien pulang dengan gejala sisa yang sangat berat dan memerlukan perawatan orang lain sepenuhnya. Namun sekitar 80% pasien pulang dengan gejala sisa yang bervariasi beratnya dan sangat memerlukan intervensi rehabilitasi agar dapat kembali mencapai kemandirian yang optimal.

Pada fase subakut pasien diharapkan mulai kembali untuk belajar melakukan aktivitas dasar merawat diri dan berjalan. Dengan atau tanpa rehabilitasi, sistim saraf otak akan melakukan reorganisasi setelah stroke. Reorganisasi otak yang terbentuk tergantung sirkuit jaras otak yang pal- ing sering digunakan atau tidak digunakan. Melalui rehabilitasi, reorganisasi otak yang terbentuk diarahkan agar mencapai kemampuan fungsional optimal yang dapat dicapai oleh pasien, melalui sirkuit yang memungkinkan gerak yang lebih terarah dengan menggunakan energi/tenaga se-efisien mungkin. Hal tersebut dapat tercapai melalui terapi latihan yang terstruktur, dengan pengulangan secara kontinyu serta mempertimbangkan kinesiologi dan biomekanik gerak.

Prinsip-prinsip rehabilitasi stroke:

  1. Bergerak
  2. Terapi latihan gerak, sebaiknya latihan gerak fungsional.
  3. Jangan biarkan pasien melakukan kegiatan gerak yang abnormal
  4. Gerak fungsional dapat dilatih apabila stabilitas batang tubuh sudah tercapai
  5. Persiapkan pasien dalam kondisi prima
  6. Hasil terapi latihan yang diharapkan akan optimal bila ditunjang oleh kemampuan fungsi kognitif, persepsi dan semua modalitas sensoris yang utuh.

Intervensi rehabilitasi pada stroke fase subakut ditujukan untuk:

  1. Mencegah timbulnya komplikasi akibat tirah baring
  2. Menyiapkan/mempertahankan kondisi yang memung- kinkan pemulihan fungsional yang paling optimal
  3. Mengembalikan kemandirian dalam melakukan aktivitas sehari-hari
  4. Mengembalikan kebugaran fisik dan mental
  5. Stroke fase kronis: diatas 6 bulan pasca stroke

Rehabilitasi Stroke Fase Kronis

Program latihan untuk stroke fase kronis tidak banyak berbeda dengan fase sebelumnya. Hanya dalam fase ini sirkuit-sirkuit gerak/aktivitas sudah terbentuk, membuat pembentukan sirkuit baru menjadi lebih sulit dan lambat. Hasil latihan masih tetap dapat berkembang bila ditujukan untuk memperlancar sirkuit yang telah terbentuk sebelumnya, membuat gerakan semakin baik dan penggunaan tenaga semakin efisien. Latihan endurans dan penguatan otot secara bertahap terus ditingkatkan, sampai pasien dapat mencapai aktivitas aktif yang optimal.

Kesimpulan

Dampak gejala sisa akibat stroke sangat bervariasi dan kompleks. Rehabilitasi stroke memerlukan keterlibatan tenaga profesional dalam bentuk tim yang membahas secara berkesinambungan perkembangan hasil dan secara dinamis menetapkan intervensi yang tepat dan sesuai. Namun tidak semua pasien mudah mendapatkan pelayanan rehabilitasi spesialistik. Walaupun demikian banyak hal yang masih dapat dilakukan untuk membantu pasien dan keluarganya. Mencegah komplikasi sekunder dan mengembalikan kemandirian pasien dapat sekaligus meringankan beban psikososial dan ekonomi keluarga. Profesi dokter di pelayanan kesehatan primer yang menjadi ujung tombak di masyarakat memiliki peran yang sangat penting.

Solusi Restorasi Rahang Tidak Bergigi

Mengetahui Solusi Dari Rahang Tidak Bergigi

Rahang tidak bergigi yang diakibatkan oleh kehilangan gigi sangatlah umum di kalangan orang dewasa, terutama seiring bertambahnya usia. Lebih dari 5% populasi di dunia kehilangan semua gigi atas dan bawahnya. Mereka hidup dengan ketidaknyamanan dan kerepotan dengan menggunakan gigi palsu. Lalu bagaimanakah solusi atas permasalahan tersebut?

Konsep “All on Four or All On Six Implant System” 

“All on Four or All on Six Implant System” adalah solusi dari rahang tidak bergigi ini. Pada dasarnya hal ini adalah suatu konsep perawatan yang menggantikan satu lengkungan penuh gigi atau rahang. Hal ini dilakukan dengan menggunakan empat atau enam implan gigi sebagai penahan struktur atau fondasinya. Hal yang menarik dari konsep perawatan ini adalah Anda tidak perlu mengganti satu gigi yang hilang dengan satu implant. Yang anda butuhkan adalah empat atau enam implan yang dipasangkan pada rahang atas dan empat pada rahang bawah untuk mengembalikan fungsi dan senyum penuh Anda.

3 Komponen Penting Untuk Hasil Yang Maksimal

Untuk hasil yang maksimal ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :

  1. Perencanaan perawatan

Perencanaan perawatan ini memiliki fungsi untuk menentukan apakah tindakan ini tepat untuk Anda dengan mempertimbangkan kondisi mulut serta memperhitungkan pembuatan mahkota. Semua ini direncanakan untuk mengembalikan fungsi dan yang berikutnya adalah meningkatkan kualitas penampilan dari senyum seseorang, “A reason to smile again”.

  1. Sarana dan prasarana

Suatu keharusan bagi penyedia layanan perawatan ini untuk memiliki fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan. Fasilitas seperti CBCT atau minimal 2D digital Panoramic x-ray, alat dan instrumen implantologi khusus,standar sterilisasi yang sangat baik seperti penggunaan autoclave B+ sesuai standar dunia karena ketidaksterilan alat dapat menggagalkan kesuksesan perawatan.

  1. Kualifikasi dan kerjasama tim

Keberhasilan perawatan tidak hanya ditentukan oleh dokter tapi kerjasama tim yang baik sangat dibutuhkan. Dimulai dari perawat, teknisi laboratorium gigi dan yang terpenting adalah pasien itu sendiri. Tanpa pemeliharaan dan penjagaan yang baik dari segi kebersihan dan penatalaksanaan paska operasi yang baik maka keberhasilan perawatan pun akan terganggu.

Di BHDC (Bethsaida Hospital Dental Center) pemasangan implant akan berhasil sekitar 3-6 bulan jikalau ada kasus khusus bisa mencapai 9 bulan.

BHDC memiliki pendekatan “all-inclusive” karena memiliki fasilitas dan tim yang memadai serta telah menjadi pilihan bagi orang-orang yang kehilangan sebagian besar gigi mereka.  Anda bisa mendapatkan senyum baru yang bercahaya hanya dalam satu hari.

Narasumber:  Drg. Tb. Iman Wahyu Kusumadirja,  DDS., PGDip.ALD., PGDip.CRD., PGDip.Impl., MM., CDIS., FALD, FWCLI

Gangguan Skizofrenia dalam Dunia Medis

Apakah anda pernah mendengar istilah skizofrenia? Gangguan skizofrenia adalah penyakit kejiwaan yang dapat mengganggu pikiran dan perilaku seseorang. Penderita skizofrenia cenderung mengalami halusinasi, delusi, dan memiliki pikiran yang kacau. Dalam jangka panjangnya, apabila skizofrenia tidak ditangani seseorang tidak bisa membedakan realita dengan halusinasi dalam pikirannya sendiri. Selain itu, mereka cenderung tidak mampu mengingat dengan baik dan tidak bisa mengendalikan pikirannya sendiri. Hal tersebut menyebabkan mereka menjadi dihiraukan dan diasingkan oleh orang lain di lingkungannya.

Di Indonesia, sebanyak 14% penderita gangguan skizofrenia masih mengalami pemasungan dan sebanyak 15,8% keluarga di Indonesia memiliki penderita gangguan jiwa, salah satunya adalah skizofrenia. Di Jawa Barat, proporsi  rumah tangga yang memiliki penderita skizofrenia telah meningkat sebesar 3% dari tahun 2013 menjadi 5%. Pada dasarnya, pemasungan tidak perlu dilakukan karena penderita skizofrenia bisa sembuh apabila menjalankan pengobatan yang tepat.

               Menurut Dr. Guntara Hari Sp.KJ dari Bethsaida Hospital, gejala gangguan skizofrenia dibagi menjadi dua dimana gejala pertama meliputi gangguan persepsi (indra) dan gangguan isi atau proses pikir dan gejala kedua meliputi emosi. Pertama, gejala melalui panca indera dapat dirasakan melalui panca indera seseorang, seperti apa yang dilihat, didengar, dan lain-lainnya.

Contoh gejala gangguan skizofrenia:

  1. Halusinasi: Memiliki keyakinan yang sangat kuat terhadap halusinasinya sendiri tanpa ada bukti eksak yang bisa menguatkan realita halusinasi orang tersebut. Meskipun sudah dinyatakan dengan bukti, orang yang menderita skizofrenia tetap memiliki keyakinan atas halusinasinya.
  2. Delusi: Merasa mendengar suara dan melihat sesuatu yang berada disekitarnya. Padahal, orang lain tidak bisa mendengar atau melihat hal tersebut.
  3. Gangguan proses pemikiran: Berbicara dengan dirinya sendiri, menangis atau tertawa secara tidak terduga, kurangnya logika dan akal sehat

Proses pemikiran penderita juga akan mengalami hambatan. Ia akan mulai berbicara dengan dirinya sendiri, mudah menangis, dan tertawa pada momen-momen tertentu yang tidak terduga.

Kedua, gejala yang meliputi emosi contohnya adalah:

  1. Mudah marah dan cepat emosi
  2. Sering tertawa sendiri terhadap hal-hal yang tidak lumrah
  3. Menghiraukan kebersihan diri: jarang menjaga kebersihan diri seperti tidak ingin mandi, menggosok gigi, dan sebagainya.
  4. Merasa tidak ada kebahagiaan yang bisa dirasakan:

Kurangnya motivasi untuk memulai atau melaksanakan suatu kegiatan, Paranoia ataua kecemasan berlebihan, Ketakutan melihat tempat umum yang ramai, Memiliki suasana hati yang tertekan atau menjadi sangat sensitif

Proses penyembuhan:

               Skizofrenia merupakan penyakit kejiwaan yang memiliki potensi untuk disembuhkan, tetapi ada beberapa faktor yang berperan dalam proses penyembuhan:

  1. Mengonsumsi obat: obat yang diterima pasien harus dikeluarkan oleh dokter yang mengerti kondisi tubuh pasien. Seiring orang tersebut membaik, dosis bisa dikurangi, tetapi obat harus dikonsumsi seumur hidup untuk mencegah kambuhnya penyakit skizofrenia.
  2. Terapi kognitif dan perubahan tingkah laku: terapi ini dapat dilakukan oleh dokter dengan tujuan untuk melatih cara berpikir seseorang. Selain cara berpikir, cara bertindak juga bisa dilatih melalui terapi ini.
  3. Support dari keluarga dan lingkungan: faktor ini merupakan faktor yang cukup dominan dalam proses penyembuhan penderita skizofrenia. Support dari keluarga dan lingkungan akan menciptakan fondasi yang kuat bagi penderita untuk memulai dan melanjutkan proses penyembuhannya.

Jika anda merasa mengenal seseorang yang menderita skizofrenia atau ingin melakukan pengecekan demi kesehatan mental anda sendiri, anda dapat berkonsultasi ke Bethsaida Hospital.

Narasumber: Dr. Guntara Hari Sp.KJ

Eksim Atopik: Faktor dan Pencegahan

Eksim merupakan gangguan kulit dimana seseorang merasa gatal secara terus-menerus. Pada umumnya, kebanyakan orang mengira bahwa kulit yang gatal hanya disebabkan oleh gigitan nyamuk, tetapi jika seseorang memiliki gangguan kulit eksim, maka rasa gatal pada kulit akan terasa secara terus-menerus dan akan terlihat ruam merah pada kulit. Ada berbagai jenis eksim yang dapat diderita oleh seseorang, tetapi jenis eksim paling umum adalah eksim atopik.

Eksim atopik adalah penyakit kulit dimana anda akan merasa gatal secara terus-menerus, timbul ruam merah pada area kulit yang gatal, kulit berubah menjadi sangat kering, pecah-pecah, tebal hingga kasar. Apabila anda mengalami masalah kulit eksim atopik, maka rasa gatal biasanya akan terasa lebih buruk pada malam hari daripada siang hari. Menurut dr. Albert Susanto, Sp.KK dari Bethsaida Hospital ada beberapa faktor munculnya eksim atopik.

Berikut adalah faktor yang menyebabkan munculnya eksim pada kulit:

  1. Genetik: eksim atopik dapat diturunkan secara genetik dari orang tua kandung. Hal ini secara otomatis menjadi salah satu pemicu dimana anak akan mengalami eksim atopik, terlebih lagi apabila didukung oleh kondisi lingkungan dan cara menjaga kulit.
  2. Lingkungan: berupa cuaca dan lingkungan hidup.
  3. Tungau dan debu: Makhluk-makhluk mikroskopik kecil seperti tungau dan debu tidak dapat dilihat secara kasat mata dan dapat memicu alergi. Alhasil, anda akan lebih rentan untuk bersin dan kulit terasa gatal akibat adanya tungau dan debu.
  4. Bulu hewan peliharaan: Jika anda memiliki hewan peliharaan, bulu hewan yang rontok bisa menjadi salah satu faktor penyebab eksim.
  5. Salah menggunakan sabun: sabun yang mengandung bahan kimia akan membuat kulit anda lebih kering, pecah-pecah, hingga menyebabkan eksim. Maka dari itu, cek dahulu komposisi sabun sebelum digunakan.
  6. AC: berada di bawah AC terlalu lama setiap hari dapat merubah kulit menjadi kering dan memicu munculnya eksim pada kulit.
  7. Makanan: makanan yang mengandung banyak minyak bisa menjadi salah satu faktor munculnya eksim pada kulit.

Cara untuk mencegah eksim atopik:

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan eksim, tetapi ada banyak cara yang bisa anda lakukan untuk mencegahnya juga:

  1. Tidak menggaruk kulit yang gatal: kulit gatal yang selalu digaruk hanya akan memperburuk kondisi eksim atopik. Tahan rasa gatal dengan menepuk-nepuk kulit yang gatal secara perlahan-lahan.
  2. Gunakan sabun alami: jangan menggunakan sabun berbahan kimia, melainkan gunakan sabun berbahan alami yang bisa anda jumpai d berbagai supermarket, tetapi jangan lupa untuk melakukan pengecekan pada komposisi sabun terlebih dahulu.
  3. Jaga pola makan: tidak mengonsumsi gorengan terlalu banyak ataupun makanan lain yang dapat memicu alergi pada tubuh anda, misalnya seperti seafood atau susu.
  4. Kontrol stress: stress akan berdampak langsung terhadap kulit anda, maka akan lebih baik jika anda dapat mengontrol rasa stress anda.
  5. Gunakan pelembap secara rutin: gunakan pelembap sebanyak 2-3x dalam sehari untuk selalu meberikan kelembapan yang optimal pada kulit, terutama bagi anda yang sering berada dalam ruangan dengan pendingin udara. Kulit yang lembap tentunya akan mencegah eksim atopik untuk berkembang.

Jangan hiraukan eksim yang merenggut keindahan kulit anda. Pasalnya, jika eksim atopik dihiraukan, kulit akan terasa lebih gatal dan ruam merah akan semakin meluas. Cara mudah  diatas bisa anda terapkan setiap hari untuk mencegah dan memperbaiki kondisi eksim atopik yang anda alami.

Jika anda mengalami eksim, anda bisa langsung konsultasi dengan dokter kulit di Bethsaida Hospital untuk pengobatan yang optimal.

Narasumber: dr. Albert Susanto, Sp.KK

Penularan HIV AIDS: Fakta dan Mitos

HIV AIDS merupakan penyakit menular yang bisa diderita oleh pria maupun wanita. HIV (Human Immunodeficiency Virus) mampu menyerang sistem imun tubuh semua orang dari segala usia. Ada beberapa fakta dan mitos penularan HIV/AIDS yang dapat membantu anda untuk menjadi lebih cermat dalam menghadapi Orang Dengan HIV/AIDS atau yang biasa disingkat sebagai ODHA.

Fakta penularan HIV AIDS:

  1. Melalui darah: HIV AIDS dapat menular melalui darah. Pada kasusnya, HIV AIDS bisa menular melalui darah dengan penggunaan jarum suntik yang digunakan bersama-sama, misalnya dengan menggunakan jarum suntik saat membuat tato atau dengan menggunakan NAPZA suntik. Selain penggunaan jarum, HIV AIDS juga bisa tertular apabila anda bercumbu dengan pasangan yang mengidap HIV apabila ada luka terbuka pada mulut pasangan anda. Terakhir, HIV bisa ditularkan melalui penerimaan donor darah dari penderita HIV.
  2. Hubungan seks: Berhubungan seks tanpa pengaman dan berganti-ganti pasangan akan meningkatkan kemungkinan bagi seseorang untuk  terkena maupun tertular HIV AIDS. Karena saat berhubungan seks, cairan vagina dan sperma akan tertukar.
  3. Air Susu Ibu: Seorang ibu dengan HIV AIDS bisa menularkan anaknya melalui ASI. ASI yang dikonsumsi dapat memengaruhi tingkat penularan pada anak sebesar 25-30%.

Mitos penularan HIV/AIDS:

  1. Melalui udara: HIV tidak bisa ditularkan melalui udara. Meskipun anda berada satu ruangan dengan ODHA dan menghirup udara yang sama, anda tidak akan tertular.
  2. Melalui keringat: meskipun keringat merupakan salah satu cairan tubuh selain cairan vagina dan sperma, tetapi jika anda secara tidak sengaja bersentuhan dengan ODHA yang sedang berkeringat atau setelah berolahraga di gym anda tidak akan tertular HIV.
  3. Saat bercumbu: bercumbu akan membuat anda dan orang lain bertukar cairan, tetapi anda tidak akan tertular HIV. Kecuali, jika mulut orang tersebut memiliki luka terbuka dan berdarah.
  4. Berjabat tangan: berjabat tangan dengan ODHA tidak akan membuat anda tertular HIV.
  5. Berpelukan: berpelukan secara dekat atau intim dengan ODHA juga tidak akan membuat anda tertular HIV karena anda tidak bertukar cairan apapun.
  6. Melalui peralatan makan: HIV tidak menular melalui air liur meskipun anda bertukar sendok, garpu, hingga sedotan dengan ODHA.

Cara mencegah HIV AIDS:

  1. Tidak melakukan seks bebas: hanya berhubungan intim dengan 1 orang saja dapat mencegah risiko anda untuk terkena HIV AIDS.
  2. Menggunakan pengaman: menggunakan pengaman saat berhubungan seks seperti kondom pria atau kondom wanita untuk mencegah cairan vagina dan cairan sperma tertukar.

Jadi, hanya melalui darah, ASI, dan cairan sperma dan vagina HIV AIDS bisa tertular. Maka tidak ada alas an bagi anda untuk merasa gelisah berada dekat dengan ODHA. Jika anda ingin melakukan tes untuk memastikan kesehatan anda, anda bisa langsung berkunjung ke Bethsaida Hospital untuk memastikan kesehatan anda.

Nutrisi Tepat untuk Hati Sehat

Hati merupakan organ yang memegang peranan penting dalam tubuh. Hati berperan dalam lebih dari 500 proses dalam tubuh. Fungsi hati antara lain untuk metabolisme karbohidrat, protein, lemak; penyimpanan dan pengaktifan vitamin dan mineral; pembentukan dan pengaturan cairan empedu; dan menghilangkan racun dalam darah. Hati yang sehat memiliki kemampuan untuk memperbaharui sel – selnya yang rusak.

Hati menyimpan vitamin – vitamin larut lemak seperti vitamin A, vitamin D, vitamin E, dan vitamin K; serta mikronutrien lain yaitu vitamin B12 , seng, besi, tembaga, dan mangan. Hati membentuk protein yang berguna untuk pengangkutan vitamin A, besi, seng, dan tembaga dalam darah. Vitamin A dan vitamin D diubah menjadi bentuk aktifnya di hati. Sel – sel hati mengurai racun seperti amonia, obat, alkohol, polutan, pestisida, herbisida, dan racun lain dalam tubuh yang kemudian dibuang melalui ginjal.

Kesehatan hati harus dijaga karena banyaknya fungsi yang dijalankan. Penyakit hati yang sering dijumpai antara lain hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C, hepatitis D, dan hepatitis E. Pencegahan terhadap penyakit hepatitis A dan hepatitis E adalah dengan melindungi makanan dan minuman dari kemungkinan terpapar oleh virus – virus tersebut. Sedangkan pencegahan untuk hepatitis B, hepatitis C, dan hepatitis D antara lain dengan menghindari cairan tubuh dan darah orang yang terkena penyakit tersebut.

Asupan kalori yang berlebihan, obat – obatan, penyakit bawaan, diabetes, dan obesitas dapat menyebabkan terjadinya penumpukan lemak di hati. Jika penumpukan ini terjadi terus menerus dalam jangka waktu lama, sel – sel hati menjadi rusak dan terjadilah penyakit hati kronis. Penurunan berat badan dan vitamin E diperlukan untuk mencegah perburukan perlemakan hati.

Kebutuhan energi orang dewasa adalah sekitar 2100 kalori untuk pria dan 1700 kalori untuk wanita. Kebutuhan energi tergantung pada jenis kelamin, tinggi badan, berat badan, dan umur. Kebutuhan karbohidrat harian berkisar antara 250 gram hingga 350 gram, protein 50 gram hingga 70 gram, dan lemak 40 gram hingga 60 gram.

Gizi seimbang adalah susunan pangan sehari – hari yang mengandung jenis dan jumlah zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, bahan baku pangan, aktivitas fisik,perilaku hidup bersih dan memantau berat badan secara teratur dalam rangka mempertahanakan berat badan normal untuk mencegah masalah gizi.

Perilaku konsumsi pangan gizi seimbang dapat terganggu oleh pola kegiatan seperti waktu kerja yang ketat, waktu di rumah yang singkat, peningkatan risiko terpapar polusi dan makanan yang tidak aman, ketersediaan berbagai makanan siap saji dan siap olah, dan ketidaktahuan tetang gizi. Selain itu, kecenderungan beraktivitas ringan atau santai juga turut berpengaruh dalam status gizi. Perlu perhatian terhadap perilaku gizi seimbang untuk mencapai pola hidup sehat, aktif, dan produktif.

Konsumsi alkohol dapat menyebabkan rusaknya sel – sel hati. Setelah masuk kedalam tubuh, alkohol diubah menjadi acetaldehyde yang dapat mengubah struktur dan fungsi sel. Konsumsi alkohol dapat pula menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme vitamin – vitamin di hati. Selain itu, terjadi juga perlemakan hati, yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit hati kronis apabila berlangsung dalam  jangka waktu yang lama.

Untuk mencegah dan membantu memperbaiki kerusakan sel – sel hati yang telah terjadi, tubuh memerlukan berbagai senyawa antioksidan. Antioksidan terdapat di dalam makanan, terutama dalam buah dan sayur. Vitamin yang berperan sebagai antioksidan antara lain vitamin A, vitamin C, dan vitamin E.; dan mineral yang berperan sebagai antioksidan antara lain selenium, tambaga, seng, mangan, dan besi.

Vitamin A dan vitamin E berperan dalam mempertahankan dinding sel, sedangkan vitamin C berperan dalam mempertahankan kondisi cairan di dalam sel. Mangan, tembaga, dan seng berperan dalam mengubah senyawa yang beracun menjadi senyawa yang lebih sederhana. Selenium dan besi melanjutkan proses tersebut dengan mengubah senyawa sederhana menjadi air sehingga tidak beracun bagi tubuh.

Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) secara umum menganjurkan konsumsi sayuran dan buah-buahan untuk hidup sehat sejumlah 400 gram per orang per hari, yang terdiri dari 250 gram sayur (setara dengan 2 ½ porsi atau 2 ½ gelas sayur setelah dimasak dan ditiriskan) dan 150 gram buah, (setara dengan 3 buah pisang ambon ukuran sedang atau 1 ½ potong pepaya ukuran sedang atau 3 buah jeruk ukuran sedang). Bagi orang Indonesia dianjurkan konsumsi sayuran dan buah – buahan 300 gram  hingga 400 gram per orang per hari bagi anak balita dan anak usia sekolah, dan 400 gram hingga 600 gram per orang per hari bagi remaja dan orang dewasa. Sekitar dua-pertiga dari jumlah anjuran konsumsi sayuran dan buah-buahan tersebut adalah porsi sayur.

Narasumber:

Nutrisi Pada Anak Yang Harus Diperhatikan

Pentingnya Mengetahui Nutrisi Pada Anak

Nutrisi pada anak sangat penting untuk diperhatikan karena mereka masih berada dalam masa perkembangan dan petumbuhan. Anak bisa berisiko malnutrisi jika kekurangan selera makan dalam waktu lama, hanya mengonsumsi makanan tertentu, atau tidak mengkonsumsi makanan yang kaya akan nutrisi. Angka Kecukupan Gizi (AKG) dibuat berdasarkan penelitian terkini untuk kesehatan anak yang optimal. AKG dimaksudkan untuk mempertahankan kesehatan dalam jangka panjang dengan mengurangi risiko terjadinya penyakit kronis dan memcegah kekurangan nutrisi.

Energi

Keperluan energi tergantung pada laju metabolisme basal, kecepatan pertumbuhan, dan aktivitas. Energi dari makanan harus mencukupi untuk pertumbuhan dan aktivitas. Komposisi energi yang dianjurkan adalah 45% hingga 65% dari karbohidrat, 10% hingga 30 % dari protein, dan 25%  hingga 35% dari lemak. Kebutuhan energi total pada anak meningkat sesuai usia anak, berkisar 1000 kkal hinga 2000 kkal.

Protein

Keperluan protein berkurang seiring dengan bertambahnya usia anak, mulai dari 1,1 gram/kilogram berat badan pada masa balita, hingga 0,95 gram/kilogram berat badan pada remaja. Kekurangan protein biasanya terjadi pada anak yang menderita berbagai alergi makanan, anak pemilih makanan, dan tidak tersedianya makanan. Protein bisa diperoleh dari daging, ayam, ikan, telur, susu, keju, kacang-kacangan, tahu, tempe, dan lain-lain.

Vitamin dan Mineral

Berbagai vitamin dan mineral dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan asupan vitamin dan mineral dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan penyakit akibat kekurangan mikronutrien. Besi, kalsium, seng, dan vitamin D adalah mikronutrien yang perlu diperhatikan dalam pemberian nutrisi untuk anak.

Besi

Anak berusia 1 tahun hingga 3 tahun berisiko kekurangan zat besi, yang dapat menyebabkan terjadinya anemia. Pertumbuhan yang baik ditandai oleh meningkatnya kadar darah merah anak. AKG zat besi adalah 8mg hingga 20mg. Besi banyak terdapat dalam kerang, daging, hati, kedelai, bayam, kacang merah, sarden, labu, tomat, dan lain – lain.

Kalsium

Kalsium diperlukan untuk pembentukan tulang anak. Kebutuhan kalsium tergantung pada kecepatan penyerapan saluran cerna, asupan protein, vitamin D, dan fosfor. AKG kalsium adalah 650mg hingga 1200mg. Kalsium bisa didapat dari susu, yogurt, keju, tahu, tempe, almond, wijen, hazelnut, sarden, salmon, kerang, udang, okra, kol, kale, brokoli, jeruk, susu kedelai, rumput laut, dan lain-lain.

Seng

Seng diperlukan untuk pertumbuhan anak. Kekurangan seng dapat berakibat terhambatnya pertumbuhan, berkurangnya selera makan, berkurangnya kemampuan pengecapan, dan gangguan penyembuhan luka. AKG seng adalah 3mg hingga 11mg.  Seng terdapat dalam kerang, daging, sereal, kacang-kacangan, ayam, yogurt, oatmeal, keju, susu, kacang polong, dan lain-lain.

Vitamin D

Vitamin D diperlukan untuk membantu penyerapan kalsium, dan dapat mencegah berbagai penyakit seperti kanker, penyakit jantung dan pembuluh darah, dan diabetes. Vitamin Dcdapat terbentuk di kulit setelah terpapar sinar matahari & banyak terdapat dalam minyak hati ikan cod, salmon, jamur, tuna, susu, yogurt, margarine, ikan sarden, hati, telur, sereal, keju, dan lain-lain.

Narasumber: Dr. M. Ingrid Budiman, Sp.GK

Sirkumsisi Electric Couter – Kenali Manfaatnya

Definisi Sirkumsisi

” Kenali metode sirkumsisi electric couter untuk kualitas hidup anak yang lebih baik

Sirkumsisi atau khitan atau sunat adalah prosedur yang biasa dilakukan dalam operasi. Prosedur ini sama tuanya dengan peradaban manusia, dimulai pada abad pertengahan. Sekitar 25-33% dari total populasi laki-laki di dunia disunat. Di AS, rata-rata satu juta bayi laki-laki yang baru lahir disunat setiap tahunnya. Tingkat sunat di AS setinggi 70%, sementara di Inggris itu adalah 6%. Di Nigeria, tingkat sunat diperkirakan 87%. Di Indonesia usia yang paling sering adalah 5-12 tahun.

Dalam laporan paling baru yang diterbitkan oleh American Academy of the Children menyimpulkan bahwa sirkumsisi bermanfaat bagi kesehatan dari bayi baru lahir. Banyak metode sirkumsisi yang digunakan saat ini, salah satunya dengan menggunakan metode klem.

Manfaat Sirkumsisi

Manfaat spesifik termasuk mengurangi risiko mendapatkan infeksi saluran kemih, Human Immunoductency Virus (HIV) dan beberapa infeksi menular seksual lainnya, dan kanker penis. Secara khusus, bukti yang menghubungkan sunat laki-laki dengan penurunan penularan HIV telah menyebabkan masyarakat global merekomendasikan program penanganan massal sebagai strategi pencegahan HIV .

Sekitar 25-33% dari total populasi laki-laki di dunia disunat. Di AS, rata-rata satu juta bayi laki-laki yang baru lahir disunat setiap tahunnya. Tingkat sunat di AS setinggi 70%, sementara di Inggris itu adalah 6%. Di Nigeria, tingkat sunat diperkirakan 87%.2 Secara medis tidak ada batasan umur untuk melakukan sirkumsisi. Di Indonesia usia yang paling sering adalah 5-12 tahun dan banyaknya anak laki-laki untuk melakukan sirkumsisi adalah 85 % (8,7 juta). Angka kejadian sirkumsisi pada pria dipengaruhi oleh pola geografis yang berbeda. Di Asia Tenggara dan pulau Pasifik memiliki prevalensi 27% tersebar di Indonesia, Pakistan, Bangladesh, dan Filipina. Tiga belas negara berkembang seperti di Afrika Utara dan Timur Tengah memiliki prevalensi sebesar 14% dan 28 negara Afrika Sub-Sahara memiliki prevalensi sebesar 45%.

Metode Sirkumsisi Electric Couter

Secara medis dokter memiliki beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko perdarahan pada pasien, diantaranya menggunakan CO2, laser, lem jaringan, epinephrine, nitrat silver, thrombin, dilakukan penjahitan dan penggunaan electro surgery.

Diathermy atau dengan kata lain merubah energy elektromagnetik menjadi tenaga panas untuk tindakan sirkumsisi sebenarnya masih menjadi kontroversi. Electro surgery (diathermy) pada sirkumsisi ditujukan untuk mencapai kondisi sunat yang hemostasis (menghentikan/ minimal perdarahan). Metode ini telah digunakan puluhan tahun lamanya, dan telah disempurnakan oleh Bovie dari universitas Harvard pada tahun 1926. Dimana saat itu dibuat unit electro surgery yang memproduksi arus frekuensi tinggi yang selanjutnya dihantarakan ke sebuah loop pemotong (elektroda) dan digunakan untuk pemotongan jaringan, koagulasi dan pengeringan.

Teknik electro surgery di masyarakat kita sering juga disebut laser atau popular dengan sunat laser padahal bukan, karena tidak menggunakan energy laser dan hanya menggunakan energy panas dari arus listrik frekuensi tinggi. Beberapa tenaga medis juga sering menyebutnya sebagai electro cauter (EC). 

Tahapannya adalah preputium ditarik keluar distal kemudian tabung dari klem dimasukkan sedemikian rupa sehingga bagian proksimal dari tabung dari klem berada pada korona glandis. Couter digunakan untuk menghilangkan preputium berlebihan. Gland penis sudah terlindungi dengan aman oleh tabung dari klem sehingga tidak akan cedera oleh cauter yang digunakan.

Apa Itu Kolesterol, HDL, dan LDL

Apa Sebenarnya Kolesterol Itu?

Kolesterol adalah salah satu turunan lemak yang beredar dalam darah kita. Tubuh memang membutuhkan kolesterol tetapi dalam jumlah terbatas. Sebenarnya tubuh sudah memproduksi kolesterol. Selain dari sel-sel tubuh, hati juga menghasilkan sekitar 1 gram kolesterol setiap harinya.

Tubuh juga mendapatkan kolesterol dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari, terutama dari kuning telur, kerang-kerangan (udang, kepiting, dll), jeroan (usus, babat, hati, limpa, otak, ginjal, jantung, dll), serta makanan yang berasal dari susu (mentega, keju, dll).

Kadar kolesterol dalam darah yang dianggap normal adalah tidak lebih dari 200 mg/dl. Seperti minyak di air, kolesterol yang seperti lilin itu tidak larut dalam air. Jadi, agar bisa diangkut maka harus digabungkan dulu dengan molekul lemak dan protein, dimana paket ini disebut sebagai lipoprotein, yang merupakan kendaraan alami untuk membawa kolesterol keseluruh tubuh.

Apa Itu Lipoprotein  & Apa Saja Kandungannya ?

Sebagian besar inti lipoprotein mengandung kolesterol dan trigliserida yang dibungkus protein dan lemak pada bagian luarnya. Jenis-jenis lipoprotein ini memiliki bentuk, fungsi, kandungan jumlah kolesterol, trigliserida, protein yang berbeda-beda dan biasanya diklasifikasikan berdasarkan basis kepadatan dan kekompakannya.

Pengertian LDL

Salah satu yang terpenting adalah lipoprotein berkerapatan rendah atau LDL (Low Density Lipoprotein). LDL terdiri atas lemak dan sedikit protein. LDL bertugas mengangkut 60-80% kolesterol tubuh ke dalam darah. Setelah “berkeliling” dalam darah selama beberapa hari dan sudah terbentuk, LDL akan diserap oleh sel-sel tubuh sebagai bahan pembuat hormon dan sel-sel tubuh.

Tapi karena tidak semua diperlukan, maka kelebihan kolesterol itu akan dibuang dalam darah. Buangan inilah kemudian akan menumpuk pada dinding pembuluh darah, yang menyebabkan timbulnya radang dan menghasilkan plak.

Karena itulah LDL biasa disebut sebagai “kolesterol jahat” karena berperan dalam proses penimbunan lemak pada pembuluh darah. Masalahnya, LDL itu merupakan kemasan kimiawi yang tidak stabil sehingga mudah buyar. Begitu ia memasuki dinding arteri dan buyar, kolesterol yang tidak terpakai akan lepas dan menumpuk pada pembuluh darah yang rentan.

Pengertian HDL

Sedangkan HDL, dikenal sebagai “kolesterol baik”. Terdiri atas protein dan sedikit lemak, HDL membentuk paket yang stabil. Karena sifatnya yang tidak mudah terurai, membuat kolesterol pada HDL juga tidak mudah menggumpal. Lebih jauh, HDL ikut membantu memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan oleh LDL. HDL berlaku seperti “pembersih”, mengangkut LDL yang bertebaran di dinding arteri dan membawanya kembali ke hati untuk dibuang. Karena HDL mencegah terjadinya penimbunan pada dinding arteri, maka semakin tinggi kadar HDL akan semakin baik, karena dianggap sebagai pelindung jantung.

Narasumber: Dr. dr. Raja Adil C. Siregar, MM, Sp.JP(K), FIHA, FICA, FESC, FACC, FAPSIC, FSCAI

Sudahkah Anda Mengenal Gejala Demam Tifoid Pada Orang Dewasa

Mengenali Gejala Demam Tifoid & Informasi Seputarnya Untuk Kualitas Hidup Yang Lebih Baik

Sebelum mengenal Gejala Demam tifoid/tifus (typhoid fever) sebaiknya kita mulai dengan mengetahui apa sebenarnya Demam Tifoid itu. Pada dasarnya Demam Tifoid ini adalah penyakit infeksi yang menyeluruh di seluruh tubuh (sistemik) akibat bakteri Salmonella Enterica Serovar Typhi (S. Thyphi).

Bakteri ini menginfeksi sekitar 21 juta orang setahun dan menyebabkan kematian hingga 200.000 orang di seluruh dunia. Data di daerah urban di Asia Tenggara menunjukkan demam kasus demam tifoid 100-200 per 100.000 penduduk. Demam Tifoid merupakan penyakit endemis di Indonesia, artinya dapat ditemukan sepanjang tahun. Kasus demam tifoid di Indonesia lebih banyak ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda.

Setiap demam tifoid selalu terjadi manifestasi demam tetapi tidak semua demam harus didiagnosis tifus. Deteksi dan diagnosis demam tifoid relatif tidak mudah karena manifestasi klinis awal tidak khas dan menyerupai berbagai penyakit. Pemeriksaan laboratorium kadang tidak sensitif sehingga sering mengalami bias untuk mendeteksi demam tifoid.

Penyebab Demam Tifoid

Bakteri S. Thyphi yang disebarkan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh air seni atau tinja orang yang terinfeksi. Biasanya dari kerang, udang air tawar, buah-buahan, sayuran mentah, susu dan produk susu yang terkontaminasi. Selain itu, lalat berperan sebagai penyebar bakteri ke makanan dan minuman.

Gejala Demam Tifoid

Demam tinggi kelelahan, sakit perut, sakit kepala, penurunan nafsu makan dan perdarahan saluran cerna.

Komplikasi Yang Bisa Dialami

BAB berdarah/hitam (perdarahan usus), timbul lubang pada usus sehingga memerlukan operasi (perforasi usus), peradangan otot jantung (miokarditis), peradangan hati (hepatitis), peradangan dinding dalam ruang jantung dan katup (endokarditis), pneumonia, peradangan pankreas (pankreatitis), infeksi ginjal atau kandung kemih, infeksi pada otak dan selaput otak (meningoensefalitis) dan kematian dalam waktu satu bulan onset. Komplikasi lain yang pernah dilaporkan adalah halusinasi dan psikosis paranoid (komplikasi neuropsikiatri).

Pemeriksaan Kesehatan yang Tepat

Demam tifoid didiagnosis melalui riwayat penyakit demam yang lebih tinggi pada sore hari dan menetap. Riwayat perjalanan ke negara endemis mendukung diagnosis demam tifoid. Pemeriksaan darah yang paling dianjurkan adalah pembiakan cairan tubuh (kultur), untuk mengetahui kuman penyebab demam dan antibiotik yang peka serta kebal (resisten). Namun, pemeriksaan ini memerlukan waktu cukup lama (5-7 hari), fasilitas yang memadai dan biaya yang cukup tinggi. Karena biayanya yang terjangkau, dinegara berkembang, masih banyak menggunakan tes widal, walaupun hasilnya kurang spesifik dan akurat. Serta pemeriksaan penunjang lainnya adalah IgM Salmonella dan Tubex yang diperiksakan sesuai indikasinya.

Pengobatan

Pengobatan demam tifoid terdiri dari tirah baring, nutrisi, cairan, antibiotika dan pencegahan komplikasi. Pemberian antibiotik sangat penting untuk mencegah komplikasi dan menekan kematian. Pada tahun 1990 mulai timbul bakteri
S. Thyphi yang kebal berbagai antibiotik Multidrug Resistent (MDR). Berbagai faktor penyebab MDR adalah penggunaan antibiotik yang tidak tepat indikasi (over-used) dan tidak sesuai aturan (tidak dihabiskan).

Pencegahan

Upaya pencegahan demam tifoid yang dicanangkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) terdiri dari program vaksinasi tifoid pada wisatawan yang berkunjung ke negara endemis, pelatihan petugas medis untuk diagnosis dan pengobatan serta peningkatan kualitas air dan sanitasi. Langkah-langkah yang wajib dilakukan masyarakat adalah membudayakan cuci tangan, meningkatkan kebersihan makanan dan minuman, menutup tempat pembuangan sampah dan memperhatikan sumber air bersih.

Vaksinasi dianjurkan untuk mencegah demam tifoid bagi semua kelompok usia. Dua jenis vaksin tifoid yaitu ViCPS ( Vi capsular polysaccharide, jenis vaksin yang inaktif) dan vaksin oral (vaksin hidup yang dilemahkan). Kelompok risiko tinggi seperti lansia, wanita hamil dan imunokompromais (daya tahan tubuh rendah) dianjurkan untuk vaksinasi tifoid yang inaktif bila tidak ada kontraindikasi. Vaksin inaktif direkomendasikan bagi subjek sehat berusia lebih dari 2 tahun dan diberikan secara injeksi via otot (intramuskular). Vaksinasi inaktif memerlukan booster setiap 2 tahun bagi subjek berisiko. Semua vaksinasi tifoid memberikan proteksi 50-80%.

Pada setiap individu yang mengalami demam lebih dari 3 hari, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter dan menjalani pemeriksaan sesuai indikasi. Penderita demam tifoid direkomendasikan mengonsumsi antibiotik sesuai anjuran dokter (hingga tuntas), untuk mencegah komplikasi dan timbulnya bakteri multiresisten (MDR).

 

Narasumber:  Dr. Yunita Maslim, Sp.PD