Kapan Amandel Anak Perlu Diangkat?

Ketika anak mengeluh memiliki kesulitan menelan, demam, meriang kemudian diikuti permintaan untuk tidak masuk sekolah, sebagian orang tua dapat dengan mudah menebak anak memiliki masalah radang tenggorokan atau infeksi amandel. Lalu, mengapa radang tenggorokan dirasa sering terjadi pada anak usia sekolah?

Hal ini disebabkan karena, amandel yang seharusnya berperan sebagai garda terdepan untuk menangkal kuman dari mulut, terinfeksi oleh virus atau bakteri. Amandel atau juga dikenal dengan tonsil merupakan salah satu benteng pertahanan tubuh manusia, terutama ketika masih kanak – kanak, karena daya tahan tubuh anak masih dalam tahap perkembangan.

Dalam keadaan normal, sebetulnya rongga mulut dan tenggorokan merupakan tempat bagi banyak kuman untuk tinggal. Kuman tidak akan membuat kondisi anak turun jika anak memiliki daya tahan tubuh yang baik, namun jika daya tahan tubuh anak sedang turun, kuman dapat menjadi ganas dan menyebabkan infeksi. Karena daya tahan tubuh anak belum sekuat orang dewasa, maka anak rentan terhadap infeksi.

Radang amandel seringkali disebabkan oleh virus, selanjutnya disebabkan oleh bakteri. Jika disebabkan oleh virus atau bakteri, anak cukup diberikan antibiotik, antinyeri dan penurun demam. Proses penyembuhan infeksi akan berjalan dengan baik setelah daya tahan tubuh membaik.

Operasi pengangkatan amandel dapat dijadikan opsi penyembuhan jika infeksi sudah terjadi berulang kali, misal, anak mengalami infeksi tenggorok parah sebanyak 5 – 6 kali dalam setahun. Pertimbangan lain yang dapat mendorong keputusan operasi adalah berubahnya fungsi amandel dari benteng pertahanan penyakit menjadi sarang penyakit.

Tindakan operasi juga direkomendasikan jika amandel terlalu bengkak hingga menyumbat saluran napas yang menyebabkan kesulitan bernapas. Indikasi lain perlunya dilakukan operasi amandel adalah ketika anak mengalami infeksi telinga tengah yang berulang, infeksi rongga hidung kronis atau radang tenggorok kronis disertai dengan bau napas.

Meski terlihat sepele, masalah amandel yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi serius. Amandel yang telah menjadi sumber infeksi tidak hanya menginfeksi tenggorok tapi juga dapat menjalar ke jantung dan ginjal. Oleh karenanya, penting memperhatikan manfaat serta risiko sebelum memutuskan operasi amandel pada anak.

Bersamaan dengan libur sekolah anak, Bethsaida Hospitals memberikan harga khusus untuk tindakan ‘tonsilektomi’ (pengangkatan amandel) senilai Rp 8.200.000. Untuk informasi lebih lanjut hubungi 021-2930 9999 ext. 160

Narasumber: dr. Alexander Nur Ilhami, Sp.THT-KL, M.Kes (Spesialis THT di Bethsaida Hospitals)

Tips Berbuka Puasa

Puasa dipercaya baik bagi kesehatan, namun kita juga harus cermat dalam memenuhi asupan gizi ketika berpuasa. Setelah menahan lapar dan dahaga sekitar 12 -14 jam, tak jarang kita kalap ketika berbuka puasa. Padahal, pemilihan makanan berbuka penting untuk melanjutkan kelancaran ibadah. Berikut ini tips pemilihan makanan saat berbuka:

1) Berbukalah dengan makanan dan minuman yang mengandung gula. Gula merupakan jenis karbohidrat sederhana yang mudah dipecah dan dicerna menjadi gula darah. Dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula Anda dapat menstabilkan kondisi gula darah yang turun setelah berpuasa, akibatnya tubuh kembali mendapatkan suntikan energi dengan segera. Pilihlah makanan manis dan sehat yang mengandung gula alami seperti mengkonsumsi buah-buahan atau jus buah.

2) Kurangi konsumsi minuman dingin, karena dapat menyebabkan perut merasa kenyang. Akibatnya, kebutuhan nutrisi lainnya yang diperlukan oleh tubuh belum terpenuhi dengan baik.

3) Perhatikan pemilihan jenis makanan. Sebaiknya tidak mengkonsumsi gorengan terlalu banyak saat berbuka, karena gorengan mengandung lemak yang tak mudah dicerna tubuh setelah berpuasa. Idealnya, konsumsi satu hingga dua potong gorengan cukup untuk mengisi kebutuhan energi sebelum masuk ke fase makan besar.

4) Konsumsi sup bening untuk bantu ganti cairan tubuh. Kita membutuhkan sekitar 2 liter cairan setiap harinya, dengan perubahan waktu makan saat berpuasa, kebutuhan cairan dapat diakali dengan konsumsi sup bening sebagai pendamping saat makan besar setelah ibadah sholat Isya.

Buka puasa diharapkan dapat memenuhi sekitar 20% kebutuhan kalori tubuh, oleh karenanya kita dianjurkan untuk tidak langsung makan besar saat berbuka. Idealnya Buka Puasa dapat disebut sebagai snacking sebelum mengkonsumsi makanan berat setelah salat Maghrib.

Hindari makanan dan minuman berikut saat berbuka puasa:

–  Minuman dan makanan yang mengandung gas seperti, minuman bersoda, buah dengan kadar gas tinggi (nangka, durian), sayuran dengan kadar gas tinggi (kol, kembang kol, kubis, lobak, caisim)

–  Makanan dengan bumbu terlalu kuat, seperti terlalu pedas, terlalu asam atau terlalu berlemak (penggunaan santan kental untuk makanan)

–  Tape ketan, kopi dan teh kental karena dapat meningkatkan produksi asam lambung

Narasumber: Asni Widjiati, S.Gz (Ahli Gizi Bethsaida Hospitals)

Mengenal Lebih Jauh Tentang Stroke

Stroke, yang merupakan salah satu dari Penyakit Pembuluh Darah Otak (Cerebrovascular disease/CVD), merupakan salah satu keadaan gawat darurat di bidang neurologi, yang perlu penanganan cepat dan tepat. Insiden stroke di negara maju cenderung menurun karena usaha prevensi primer yang berhasil terutama dalam hal pencegahan terhadap hipertensi. Akan tetapi di negara berkembang insiden ini justru meningkat akibat pengaruh urbanisasi, perubahan gaya hidup, dan bertambahnya umur harapan hidup. Insiden stroke pada daerah perkotaan di Indonesia diperkirakan 5 kali lebih besar daripada insiden di daerah pedesaan. Stroke merupakan masalah utama dalam kesehatan masyarakat, menempati peringkat tiga teratas sebagai penyebab kematian di kebanyakan negara. Stroke menyerang 500.000 orang tiap tahunnya, dan mengakibatkan 150.000 kematian. Stroke menjadi penyebab utama kecacatan pada orang dewasa.

Definisi stroke menurut WHO Task Force in Stroke and other

Gangguan disfungsi neurologis akut yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah, dan terjadi secara mendadak (dalam beberapa detik) atau setidak-tidaknya secara cepat (dalam beberapa jam) dengan gejala-gejala dan tanda-tanda yang sesuai dengan daerah fokal otak yang terganggu.

Terdapat beberapa hal yang dapat menjadi faktor resiko terjadinya stroke, antara lain :

  • Hipertensi
  • Kelainan jantung
  • Merokok
  • Diabetes Mellitus
  • Peminum alkohol
  • Usia
  • Kolesterol
  • Jenis kelamin
  • Penggunaan obat-obatan terlarang
  • Kelainan pembuluh darah (aneurisma, malformasi arteri vena)
  • Obesitas dan kurang olah raga

Secara garis besar, stroke dapat diklasifikasikan menjadi :

  1. Stroke iskemik/infark (sumbatan pada pembuluh darah otak)
  2. Stroke perdarahan

Terdapat beberapa gejala stroke yang biasanya dialami oleh penderita, antara lain :

  1. Penurunan kesadaran (pasien menjadi tampak mengantuk atau tidak sadar)
  2. Nyeri kepala hebat
  3. Muntah
  4. Kejang
  5. Gangguan motorik (kelemahan sebelah anggota gerak)
  6. Gangguan sensorik (baal atau kesemutan sebelah anggota gerak)
  7. Gangguan penglihatan (gelap satu mata atau kedua mata, pandangan ganda)
  8. Pusing berputar disertai gangguan keseimbangan
  9. Bicara menjadi pelo/cadel atau pasien menjadi sulit untuk diajak berkomunikasi
  10. Mulut menjadi mencong/tertarik ke salah satu sisi

Mengingat semakin meningkatnya angka harapan hidup dan perubahan pola hidup masyarakat, angka kejadian stroke pun akan semakin meningkat. Penting bagi setiap orang untuk dapat mengetahui stroke lebih baik, terutama faktor resiko dan gejala-gejala yang terjadi sehingga dapat segera atur jadwal konsultasi di rumah sakit dengan dokter spesialis syaraf, karena penangan stroke masuk dalam ranah neurologi. Stroke perlu mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Remember TIME IS BRAIN…

 

Apa itu “Brain Washing” dan DSA otak ?

Sebutan “Brain Washing” akhir-akhir ini menjadi pembicaraan yang menarik selain di kalangan masyarakat umum tetapi juga di kalangan medis atau spesialis kedokteran.

Dalam bidang medis yang dimaksud “Brain Washing” adalah hampir sama dengan istilah DSA (Digital Substraction Angiography) otak. Jadi penamaan “Brain Washing” sebetulnya kurang begitu tepat untuk istilah kedokteran. Secara umum kita tahu istilah “Brain Washing” atau cuci otak hanya dipakai dalam dunia spionase maksudnya agar sandera dapat menerima dokrin yang ingin di-“jejal”-kan ke dalam pikirannya.

Pada tulisan ini kami akan menjelaskan apa itu DSA (Digital Substraction Angiography) otak dan juga manfaat DSA otak. Pemeriksaan ini dikerjakan dengan menggunakan pesawat angiografi radiologi, sehingga harus dikerjakan oleh spesialis radiologi yang memang sudah mengerti betul tentang proteksi radiasi untuk keamanan pasien. Pesawat angiografi menggunakan sinar-x secara “real time atau continue” untuk memantau pembuluh darah yang diperiksa setelah disuntikkan kontras, sehingga pembuluh darah akan terlihat dari fase arteri, fase jaringan sampai fase vena.

Tujuan DSA otak adalah untuk melihat kelainan pembuluh darah di otak seperti aneurisma (pelebaran pembuluh darah), AVM (Artery Venous Malformation), stenosis (penyempitan), AVF (Artery Venous Fistule) dan tumor yang banyak mengandung pembuluh darah (meningioma). Selain menentukan kelainan pembuluh darah, pemeriksaan DSA otak dapat dilanjutkan dengan pengobatan kelainan-kelainan tersebut. Pengobatan aneurisma dengan “coiling”, AVM dengan embolisasi mengunakan “glue”, stenosis akan dilebarkan dengan “balloon”, serta embolisasi AVF dan meningioma.

Pemeriksaan awal yang diperlukan untuk DSA (Digital Substraction Angiography) otak adalah MRI, MRA (Magnetic Resonance Angiography) dan MRV (Magnetic Resonance Venography). Dari pemeriksaan ini kita dapat mengetahui kelainan pembuluh darah. Apabila ditemukan kelainan yang mencurigakan maka akan dilanjutkan dengan DSA otak.

Detail pembuluh darah otak serta dapat mengatasi kelainan yang ada dapat dilihat dengan pemeriksaan DSA otak. Keadaan sakit kepala yang sulit diobati atau menahun, tinnitus dan hipertensi yang disebabkan penyempitan pembuluh vena otak dapat diketahui penyebabnya dan dilanjutkan dengan pengobatan melalui pemeriksaan DSA otak.

Idiopathic Intracranial Hypertension (IIH) adalah keadaan hipertensi (kenaikan tensi darah) yang disebabkan penyempitan pembuluh darah  vena di otak. Pengobatan dengan memperlebar penyempitan tersebut dinyatakan berhasil mengatasi IIH, seperti yang dilaporkan pada American Journal Neuroradiology, September 2011.

Tips Memperlancar dan Menyimpan ASI

Bunda mungkin bingung ketika produksi ASI tidak sesuai dengan permintaan bayi alias tekor. Untuk mengatasinya, berikut beberapa tips yang dapat diterapkan Bunda untuk memperlancar produksi ASI:

1) Ibu sebaiknya mengkonsumsi makanan dan minuman secara optimal baik dari segi kuantitas maupun kualitas karena asupan ibu akan mempengaruhi kualitas ASI. Oleh karenanya, Bunda jangan terburu-buru menjalankan program diet yah.

2) Istirahat cukup dapat menunjang tubuh memproduksi ASI dengan baik karena pasca melahirkan tubuh Bunda perlu melakukan adaptasi. Lebih lanjut, kelelahan dapat menyebabkan mood Bunda menurun dan berpengaruh pada produksi ASI.

3) Tetap tenang dan rileks, karena stress dapat mempengaruhi ketersediaan ASI.

4) Lakukan kegiatan menyusui sesering mungkin, atau sesuai dengan kebutuhan bayi. Reflek hisap dari bayi dapat membantu Bunda memproduksi hormon prolaktin yang juga mendorong produksi ASI.

Jika produksi ASI sudah lancar, berikut tips menyimpan ASI untuk Bunda.

  1. Simpan ASI dalam botol khusus untuk menyimpan ASI (botol kaca atau plastik bebas BPA) dan jangan lupa untuk melabeli botol dengan tanggal dan jam produksi ASI yah Bunda.
  2. Sisa ASI yang sudah dipanaskan sebaiknya dibuang (tidak diberikan lagi) pada bayi.
  3. Saat menyimpan ASI di freezer, Bunda disarankan untuk tidak menyimpannya bersama dengan bahan makan lainnya.
  4. Perhatikan daya tahan ASI dan tempat penyimpanannya:
  • ASI yang disimpan di dalam freezer dengan suhu -18oC dapat bertahan hingga 6 bulan
  • ASI yang disimpan dalam freezer di kulkas bagian bawah dengan suhu 4oC dapat bertahan hingga 5 hari
  • ASI yang baru diperah dan disimpan dalam suhu ruangan dapat bertahan selama 4-8 jam
  • ASI yang disimpan di dalam cooler box dapat bertahan hingga 24 jam.

 

Narasumber: dr. Rika Oktarina Rony. Sp.A, MARS
Dokter spesialis anak Bethsaida Hospitals

 

Bethsaida Fun Walk

Dalam rangka memperingati HARI KESEHATAN NASIONAL yang jatuh pada tanggal 12 November 2012, PT ANUGERAH HOSPITALINDO bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, menggelar acara Bethsaida Fun Walk yang memiliki tujuan untuk mensosialisasikan keberadaan Bethsaida Hospital yang akan beroperasi dalam waktu dekat.
Hadir dalam acara BETHSAIDA FUN WALK ini, seluruh lapisan masyarakat Gading Serpong dan sekitarnya, segenap jajaran management PARAMOUNT GROUP dan jajaran pejabat pemerintahan dari DINAS KESEHATAN KABUPATEN TANGERANG, para dokter dan konsultan, serta mitra kerja yang  ikut berperan serta dalam pembangunan Bethsaida Hospital.

Awas! Banyak Makanan Pencetus Asma

Anda atau anggota keluarga menyandang asma alergi? Maka sebaiknya menghindarkan makanan dan obat yang menjadi pencetus asma. Makanan segar amaupun berpengawet atau dengan bahan tambahan lainnya mempunyai kemampuan memprovokasi timbulnya serangan asma (potensial alergenik). Untuk mengetahui apa apa saja yang menjadi pencetus asma seorang dengan bakat alergi asma sebaiknya dilakukan UJI ALERGI. Faktor makanan yang dapat mencetuskan serangan pada asma alergi sekitar 10% pada anak dan kurang dari 5% pada dewasa.

Uji alergi secara sederhana dapat dilakukan dengan Uji Kulit dengan metode Skin Prick Test (tusuk), Patch test (tempel) atau pada asma dapat dilakukan Uji Provokasi Asma dengan menggunakan zat histamin hirupan. Tentu semua uji ini adalah di bawah pengawasan dokter karena bila terjadi serangan alergi atau asma bisa ditanggulangi dengan segera dan tidak membahayakan jiwa pasien. Karena pada dasarnya serangan asma dipancing sehingga kita mengetahui apa apa saja yang menjadi pencetus. Secara spesifik uji alergi juga bisa dilakukan dengan pemeriksaan darah (IgE RAST test) hanya biayanya relatif mahal.
Telah banyak dilakukan penelitian yang menguji bahan makanan apa yang sering mencetuskan asma alergi, Makanan tersebut secara garis besar adalah

Telur dan makanan berbahan asala telur
Susu Sapi dan produk turunannya seperti es krim, yogurt, keju dan lain lain
Kacang kacangan dan produk yang mengandung kacang
Kedelai (soya)
Gandum (wheat)
Ikan, Kerang dan beberapa makanan laut lainnya
Pengawet makanan yang mengandung senyawa tambahan Sulfit
Pewarna makanan seperti senyawa Tartrazin
MSG/vetsin (Monosodium Glutamate)
Aspartam (pemanis makanan)
Salisilat (pada obat golongan Aspirin dan obat panas anak pada umumnya)

Secara garis besar bahan bahan diatas secara tunggal atau campuran dapat mencetuskan asma alergi. Misal pada sepotong coklat (candy bar) maka mengandung susu, cashew nut atau kacang. Pada minuman kemasan biasanya mengandun aspartam, makanan jajanan pasar yang gurih atau kripik kentang (potato chip dan produk produk turunannya) yang mengandung vetsin/mecin (MSG=monosodium glutamat). Sebagai insan yang bijak yang memiliki keluarga atau anak dengan bakat alergi sudah sewajarnya untuk waspada terhadap bahan bahan di atas. Luangkan waktu untuk membaca kandungan makanan berkemasan karena memang wajib dicantumkan.
Kesulitan orangtua pada umumnya adalah pada saat anak (dengan bakat asma alergi) yang terpengaruh iklan atau ajakan teman memaksa untuk mengkonsumsi bahan bahan makanan tersebut dan orangtua sering tidak mampu melarang sehingga pasca memakan, timbul gejala batuk, timbulnya dahak dan sesak napas mengi (wheezing). Penting juga mengetahui dengan jelas bahan makanan pencetus tersebut dengan melakukan uji alergi baik uji kulit maupun pemeriksaan darah.

Oleh karena itu waspada terhadap makanan di sekeliling kita, karena mungkin dapat menjadi pencetus serangan asma. Dianjurkan pula obat obat anti alergi dan obat pereda serangan asma sebaiknya dekat dan mudah didapatkan selalu tersedia karena tidak diketahui kapan dan dimana seorang penyandang asma alergi mendapat serangan.

Kelainan Prostat

Kelenjar prostat adalah kelenjar yang terdapat di sekitar leher kandung kemih pria. Berbagai kelainan dapat terjadi pada prostat, yang tersering adalah:
– Pembesaran Prostat Jinak ( Benign Prostate Hyperplasia, BPH)
– Kanker Prostat
– Peradangan Prostat (Prostatitis)

Pembesaran Prostat Jinak (BPH)
Pembesaran prostat jinak umumnya terjadi pada pria usia 50 tahun atau lebih. Biasanya pasien datang dengan keluhan gangguan berkemih akibat sumbatan saluran kemih oleh prostat yang membesar.
Keluhan yang sering dialami antara lain berupa pancaran berkemih yang melemah, frekuensi berkemih yang menjadi lebih sering, sering kencing di malam hari, kencing yang tidak tuntas, terputus-putus, harus mengedan, dan kesulitan untuk menahan kencing.
Selain dari keluhan, BPH diketahui dari pemeriksaan fisik oleh dokter, khususnya pemeriksaan colok dubur untuk menilai prostat, ultrasonografi (trans abdominal, trans rectal). Untuk menilai gangguan pancaran berkemih juga dapat dinilai melalui pemeriksaan uroflowmetri.

Dari pemeriksaan yang didapat, pembesaran prostat jinak dapat ditangani melalui observasi, minum obat, ataupun memerlukan tindakan/intervensi, baik berupa reseksi prostat lewat endoskopi (Trans Urethral Resection of the Prostate- TURP), Laser prostat (green light / holmium YaG), ataupun operasi terbuka.
Kanker Prostat
Kanker prostat umumnya mengenai pria berusia 50 tahun ke atas. Berbeda dengan BPH, awalnya penderita kanker prostat tidak selalu mengalami keluhan. Deteksi dini dilakukan dengan pemeriksaan colok dubur dan pemeriksaan marker kanker prostat lewat darah (prostate specific antigen-PSA). Kelainan dari salah satu pemeriksaan ini mengindikasikan perlunya dilakukan biopsi prostat. Kanker prostat dipastikan bila dari hasil pemeriksaan jaringan biopsi prostat (patologi anatomi-PA) ditemukan sel-sel kanker.
Pemeriksaan sidik tulang (bone scan) diperlukan untuk mengetahui adanya penyebaran kanker ke tulang.
Terapi kanker prostat tergantung dari stadiumnya. Pada stadium awal alternatif terapi berupa operasi (terbuka atau laparaskopi) atau terapi penyinaran. Pada stadium lanjut terapi berupa hormonal hingga kemoterapi.

Peradangan Prostat (prostatitis)
Peradangan prostat lebih banyak mengenai pria yang usianya lebih muda. Keluhan sering kali tidak khas berupa nyeri ataupun rasa tidak nyaman di daerah sekitar kemaluan, selangkangan dan perut bagian bawah. Dapat pula disertai demam dan gangguan berkemih. Pemeriksaan biasanya menemukan adanya nyeri tekan pada prostat saat melakukan pemeriksaan colok dubur.

Pembesaran Kelenjar Getah Bening Pada Anak

Pembesaran kelenjar getah bening/ limfe dikenal dalam istilah kedokteran adalah lymphadenopathy. Merupakan kelainan yang sering dijumpai pada masa anak-anak. Proses pembesaran kelenjar ini sering merupakan akibat dari infeksi, biasanya jinak dan dapat sembuh sendiri. Infeksi virus atau bakteri dapat menimbulkan respon limfosit dan makrofag yang terlokalisir sehingga menyebabkan pembesaran kelenjar. Namun pembesaran kelenjar juga dapat disebabkan oleh adanya infeksi di kelenjar getah bening itu sendiri. Penyebab lain yang jarang namun lebih serius adalah lymphoma atau leukimia. Sistem limfatik dalam tubuh kita  mempunyai manfaat yaitu:
(1) Mengembalikan cairan & protein dari jaringan ke sirkulasi darah (2) Mengangkut limfosit (3) Membawa lemak emulsi dari usus (4) Menyaring & menghancurkan mikroorganisme untuk menghindarkan penyebaran  (5) Menghasilkan zat antibodi
Kelenjar limfe kita memiliki ciri antara lain berbentuk kecil lonjong seperti kacang, terdapat di sepanjang pembuluh, bekerja sebagai penyaring.
Anak-anak yang sehat sering memiliki kelenjar limfe yang dapat diraba terutama di daerah leher, ketiak dan lipat paha. Kelenjar limfe jinak memiliki ukuran yang kecil, lembut dan dapat bergerak bebas. Kelenjar limfe dikatakan membesar bila ukuran diameternya >1cm. Bila ditemukan adanya pembesaran kelenjar limfe pada anak sebaiknya diperiksakan ke dokter untuk dicari penyebabnya dan penanganan lebih lanjut.

Kaki Indah Bebas Varises

Varises tungkai adalah penyakit yang terjadi pada pembuluh darah (vena) perifer yang memiliki gambaran vena yang melebar dan memanjang serta berkelok-kelok disertai gangguan sirkulasi darah didalamnya. Gangguan sirkulasi darah yang terjadi merupakan hambatan aliran darah vena kembali ke jantung sehingga darah mencoba menembus katup-katup dari sistem penghubung yang kemudian oleh penderita dikelukan sebagai rasa pegal, linu atau lekas lelah setelah melakukan aktivitas dengan tungkainya, seperti berdiri dan berjalan lama. Hal ini dapat menurunkan kualitas hidup. Bentukan varises yang berupa pelebaran dan pemanjangan vena yang berkelok-kelok juga dikeluhkan dari segi keindahan.

Penyebab
Penyebab varises meliputi :

  • Obesitas
  • Pekerjaan berdiri lama
  • Hormonal (menopause)
  • Kehamilan, obat kontrasepsi
  • Faktor keturunan

Jenis Varises Berdasarkan Derajat Keparahan

  • Stadium I (Pegal, lekas lelah)
  • Stadium II (Terdapat pelebaran vena)
  • Stadium III (Varises yang menyeluruh)
  • Stadium IV (Ulkus varikosum, luka di daerah mata kaki yang sulit sembuh)

Jenis Varises Berdasarkan Letaknya

  • Varises Kapilaris

Bila yang terkena adalah vena kapiler di bawah kulit. Tampak sebagai serabut halus     dari pembuluh darah.

  • Varises Retikularis

Bila yang terkena adalah cabang-cabang dari vena utama. Umumnya kecil dan berkelok hebat di bawah kilit.

  • Varises Trunkal

Vena yang terkena adalah vena mata kaki berikut seluruh jalurnya.

Dampak Varises Tungkai

Penderita varises tungkai akan mengalami dampak sebagai berikut :

  • Secara estetik akan menurunkan kepercayaan diri karena sangat mengganggu penampilan.
  • Secara fungsional akan mengganggu aktivitas fisiknya, karena timbulnya keluhan pegal dan linu.
  • Bila terjadi luka rawan terhadap risiko infeksi.

Terapi Non Operatif
Analgesik dapat mengontrol nyeri. Rasa nyeri pada penderita varises tungkai dirasakan sebagai rasa pegal dan linu yang dapat diatasi dengan analgesik.

Terapi Operatif

  • Pengikatan Vena (Penghubung)

Tindakan ini membuat vena tidak terisi darah dan kemudian menyempit dan menghilang.

  • Pengangkatan multipel dari vena reticularis (Babcock)
  • Stripping Varises

Pada pembedahan ini dimasukkan alat bernama stripper ke dalam varises tungkai yang kemudian dilakukan pengangkatan varises bersama strippernya.

  • Pengangkatan luka yang sulit sembuh

Mencegah Varises

  • Menghindari obat-obatan yang bersifat hormonal termasuk menghindari obat KB yang mengandung hormonal seperti pil.
  • Menurunkan berat badan bila terdapat tanda-tanda obesitas. Hal ini agar beban arus balik pembuluh darah ke jantung tidak terlalu berat
  • Menghindari aktivitas yang berisiko, seperti berdiri dan berjalan terlalu lama.